Senin, 11 April 2011

KAMUS PERIBAHASA BANJAR

Judul Buku : Kamus Peribahasa Banjar
Pengarang : Tajuddin Noor Ganie, M.Pd.
Penerbit : Rumah Pustaka Folklor Banjar
Tempat Tahun : Banjarmasin, Edisi 2011
Tebal : 1.539+L halaman
Peresensi : Salbiah

Para intelektual yang peduli dengan kekayaan local genius etnis Banjar di Kalsel, menyambut gembira penerbitan Kamus Peribahasa Banjar (KPB). KPB merupakan pengembangan lebih lanjut dari tesis Tajuddin Noor Ganie (TNG) yang ditulisnya sebagai tugas akhir perkuliahannya di Program Pascasarjana PBSID FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (2005).
Pertama kali diterbitkan (2005) dalam bentuk tesis dengan jumlah entri/lema sebanyak 165 buah. Tahun 2006, mulai diterbitkan dalam bentuk kamus dengan jumlah entri/lema sebanyak 1.538 buah (Edisi 2006). Tahun 2011, terjadi penambahan entri/lema yang luar biasa dengan jumlah halaman 1.5391+L halaman quarto). Kali ini jumlah entri/lemanya ada sebanyak 9.058 buah (Edisi 2011). Menurut TNG, KPB disusunnya sebagai bagian dari kegiatan inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi peribahasa Banjar yang dilakukannya sebagai seorang intelektual dan budayawan Banjar.
Berdasarkan karakteristik bentuknya, peribahasa Banjar terdiri atas 2 ragam/jenis, yakni berbentuk puisi dan berbentuk kalimat. Peribahasa Banjar berbentuk puisi adalah kata-kata yang disusun sedemikian rupa dengan cara merujuk kepada gaya bahasa perulangan (repetisi), terdiri atas : (a) gurindam, (b) kiasan, (c) mamang papadah, (d) pameo huhulutan, (e) saluka, dan (f) tamsil.
Sementara itu, peribahasa Banjar berbentuk kalimat adalah kalimat tunggal atau kalimat majemuk yang disusun sedemikian rupa dengan cara merujuk kepada gaya bahasa perbandingan, pertentangan, dan pertautan (bukan perulangan), terdiri atas : (a) papatah-patitih, (b) paribasa, (c) parumpamaan, (d) ibarat, dan (e) papadah.
Perbedaan karakteristik bentuk antara peribahasa Banjar berbentuk puisi dan peribahasa Banjar berbentuk kalimat menurut TNG terletak pada ragam/jenis gaya bahasa yang dirujuknya.
Peribahasa Banjar berbentuk puisi identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi), sedang peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan.
Perbedaan ragam/jenis gaya bahasa dimaksud berimplikasi langsung pada terjadinya perbedaan karakteristik bentuk, karena kosa-kata yang dapat dipilih untuk ditata, ditempatkan, dan diurutkan dalam struktur peribahasa Banjar berbentuk puisi berbeda dengan kosa-kata yang dapat dipilih untuk ditata, ditempatkan, dan diurutkan dalam struktur peribahasa Banjar berbentuk kalimat.
Struktur gaya bahasa perulangan (repetisi) setidak-tidaknya menuntut adanya pengulangan atas kosa-kata yang sama, hampir sama secara morfologis, kosa-kata yang saling bersajak a/a/a/a, a/b/a/b, dan a/b/b/a, baik secara vertikal maupun secara horisontal di awal, tengah, dan akhir baris/larik.
Ciri-ciri karakteristik bentuk di atas identik dengan gaya bahasa perulangan (repetisi), seperti : aliterasi, anadiplosis, anafora, antanaklasis, asonansi, epanalepsis, epistrofa, epizeukis, kiasmus, mesodiplosis, simploke, dan tautotes
Sedang gaya bahasa perbandingan dan pertentangan mengesampingkan semua ciri yang melekat pada gaya bahasa perulangan (repetisi) di atas. Gaya bahasa perbandingan cuma menuntut adanya 2 entitas kalimat yang dapat saling diperbandingkan (gaya bahasa perbandingan) atau dipertentangkan (gaya bahasa pertentangan).
Ciri-ciri karakteristik bentuk berupa kalimat tunggal atau kalimat majemuk di atas menunjukkan peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan gaya bahasa perbandingan dan pertentangan, seperti : antitesis, depersonifikasi, inuendo, ironi, metafora, paradoks, perifrasis, perumpamaan), sarkasme, dan hyperbola.
Berdasarkan karakteristik fungsinya peribahasa Banjar dapat difungsikan sebagai media pendidikan, pedoman tingkah laku, dan pengatur aspek-aspek kehidupan bermasyarakat (fungsi 1). Peribahasa Banjar yang identik dengan fungsi ini adalah mamang papadah (berbentuk puisi) dan papadah (berbentuk kalimat).
Fungsi ke 2 peribahasa Banjar adalah sebagai sumber hukum, pengesah pranata sosial, pengawas dan pengukuh norma-norma sosial. Fungsi ke 3 peribahasa Banjar adalah sebagai sistem proyeksi, lambang identitas budaya, dan sumber informasi budaya.
Fungsi ke 4 peribahasa Banjar adalah sebagai media untuk bergurau, berolok-olok, dan sebagai sarana retorika untuk mematahkan kata-kata lawan bicara, peribahasa Banjar yang identik dengan fungsi ini adalah gurindam, pameo huhulutan (berbentuk puisi), papatah-patitih, parumpamaan, dan ibarat (berbentuk kalimat).
Dari 4 fungsi ini, peribahasa Banjar dengan karakteristik fungsi nomor 4 merupakan peribahasa Banjar yang paling dominan (paling banyak ditemukan).
Berdasarkan karakteristik maknanya, TNG berpendapat peribahasa Banjar berbentuk puisi identik dengan karakteristik makna stilistika, sedang peribahasa Banjar berbentuk kalimat identik dengan karakteristik makna konotatif.
Karakteritik makna peribahasa Banjar yang ditemukan perwujudannya dalam penelitian TNG terdiri atas 2 genre/jenis, yakni : (1) peribahasa Banjar yang mengandung kebijaksanaan dan kebenaran, (2) peribahasa Banjar yang tidak mengandung kebijaksanaan atau kebenaran.
Peribahasa Banjar yang mengandung kebijaksanaan atau kebenaran adalah mamang papadah (berbentuk puisi) dan papadah (berbentuk kalimat). Sedang peribahasa Banjar yang tidak mengandung kebijaksanaan atau kebenaran adalah pameo huhulutan (berbentuk puisi), papatah-patitih, parumpamaan, dan ibarat (berbentuk kalimat).
Berdasarkan karakteristik nilainya, peribahasa Banjar menurut hasil penelitian TNG mengandung 4 konsep nilai, yakni : (1) kekudusan (holiness), (2) kebaikan (goodness), yang terdiri atas : (a) keadilan, (b) kearifan, (c) kedisiplinan, (d) kejujuran, (e) ketabahan, (f) kesederhanaan, (g) kesetiaan, (3) kebenaran (truth), dan ( 4) keindahan (beauty).
Hasil penelitian TNG menunjukkan peribahasa Banjar yang paling banyak ditemukan adalah peribahasa Banjar dengan karakteristik nilai kebaikan (goodness), data ini menurut TNG merupakan indikasi bahwa tujuan utama yang menjadi amanat dari setiap reproduksi lisan dan tulisan atas sebuah peribahasa Banjar di kalangan etnis Banjar di Kalsel adalah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.
Menurut TNG, ada 2 nilai kebaikan yang paling dominan atau paling banyak ditanamkan melalui peribahasa Banjar, yakni kearifan dan kedisiplinan. Nilai kebaikan lain yang juga ditanamkan melalui peribahasa Banjar adalah keadilan, kejujuran, ketabahan, kesetiaan, dan kesederhanaan.
Meskipun nilai-nilai yang ditanamkannya adalah kearifan dan kedisiplinan, namun nilai-nilai kebaikan dimaksud tidak ditanamkan melalui peribahasa Banjar dengan tampilan fisik positif (estetik), sebaliknya ditanamkan melalui peribahasa Banjar dengan tampilan fisik negatif.
Kosa-kata yang dipilih sebagai media pewujudnya secara tekstual tidak langsung mencerminkan kebijaksanaan atau kebenaran karena disampaikan dengan nada mencela, mencemooh, dan menyalahkan, (bahasa Banjar : mahapak, manumpalak, dan maniwas).
Nilai positifnya sebagai ikon budaya tidak langsung mencuat dari tampilan fisiknya yang negatif, sehingga para pengguna harus menggalinya dengan perlakuan atau pendekatan dekonstruksi (pembuktian terbalik). Tampilan fisik negatif itu berkaitan dengan karakteristik fungsi peribahasa Banjar yang juga negatif, yakni sebagai media untuk bergurau, berolok-olok, dan sebagai sarana untuk mematahkan kata-kata lawan bicara.
Dominasi peribahasa Banjar dengan karakteristik nilai kearifan dan kedisiplinan menurut TNG merupakan petunjuk bahwa orang-orang yang dijadikan objek gurauan, objek olok-olok, atau sebagai lawan bicara yang harus dipatahkan kata-katanya adalah orang-orang tidak arif dan orang-orang tidak disiplin (tidak terkendali), yakni orang-orang yang diposisikan sebagai musuh masyarakat paling laten (momok) di kalangan etnis Banjar di Kalsel.
Peribahasa Banjar dengan tampilan fisik negatif identik dengan stigma buruk yang dapat difungsikan sebagai alat untuk membunuh karakter orang-orang yang tidak disukai secara sosial, yakni orang-orang dengan sikap mental negatif atau orang-orang yang tidak menguntungkan dalam hubungan sosial kemasyarakatan yang egaliter.
Terhadap orang-orang yang menjadi musuh masyarakat ini, etnis Banjar di Kalsel tidak mau berkompromi sebaliknya bersikap konfrontatif. Peribahasa Banjar yang dipilih untuk menyadarkan atau mendisiplinkannya bukanlah peribahasa Banjar dengan kosa-kata persuasif tapi peribahasa Banjar dengan kosa-kata yang kasar yang dirangkai dalam bentuk gaya bahasa inuendo, ironi, paradoks, dan sarkasme.
Dalam konteks ini peribahasa Banjar difungsikan sebagai sarana kritik sosial yang ditujukan untuk memaksa dan mengawasi anggota masyarakat agar selalu bersikap mematuhi norma-norma yang berlaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar