Oleh Tajuddin Noor Ganie, M.Pd
Folklor Banjar yang hidup dan berkembang di kalangan etnis Banjar di Kalsel sangat banyak ragam/jenisnya, salah satu di antaranya adalah peribahasa Banjar. Peribahasa Banjar yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kalimat pendek dalam bahasa Banjar yang pola susunan kata-katanya sudah tetap, bersifat formulaik, dan sudah dikenal luas sebagai ungkapan tradisional yang menyatakan maksudnya secara samar-samar, terselubung, dan berkias dengan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan, dan perulangan.
Peribahasa Banjar diciptakan sebagai bagian dari kegiatan kolektif yang berhubungan dengan hal-hal seperti adat-istiadat, ajaran moral normatif, estetika, etika, filsafat, dan norma-norma sosial. Semua aspek sosial budaya di atas merupakan masalah mendasar yang penting dan bernilai dalam kehidupan keseharian etnis Banjar di Kalsel.
Sejak lama peribahasa Banjar mengemban fungsi sosial sebagai wahana pewarisan dan pemahaman gagasan tata nilai yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan keseharian mereka. Tidak hanya itu, melalui peribahasa Banjar sebagai medianya, etnis Banjar di Kalsel dapat mengungkapkan alam pikiran, sikap hidup, dan sistem sosial budaya mereka.
Sehubungan dengan itu, tidak dapat dipungkiri peribahasa Banjar memiliki arti penting, setidak-tidaknya ada 3 fakta empirik yang menjadi dasar rasionalnya, yakni : (1) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang bersifat intersubjektif, dalam arti bukan sekadar artefak atau fakta kebendaan saja; (2) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang diwujudkan dalam bentuk wacana atau inskripsi dengan kandungan 3 gugus fakta sekaligus, yakni fakta mentalitas (mentifact), fakta kesadaran budaya milik bersama, dan fakta sosial (sociofact) dari etnis Banjar; dan (3) peribahasa Banjar adalah folklor Banjar yang berhubungan dengan dunia gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan tentang konstruksi realitas budaya di tengah konteks dan proses dialektika budaya etnis Banjar.
Dalam kedudukannya sebagai kekayaan budaya milik bersama, etnis Banjar dapat mempergunakan peribahasa Banjar sebagai media untuk mengekspresikan atau merepresentasikan konstruksi realitas nilai budaya yang khas suku bangsa mereka. Melalui peribahasa Banjar sebagai media komunikasinya, generasi tua etnis Banjar dapat menyampaikan semua ajaran, informasi, nasihat, dan semua kearifan lokal lainnya kepada generasi penerusnya, sehingga kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional berbahasa Banjar ini tetap lestari dari generasi ke generasi.
Selain itu, peribahasa Banjar juga menampilkan gagasan, hayatan, ingatan, pandangan, pikiran dan renungan mereka sebagai suku bangsa. Bahkan, peribahasa Banjar juga dapat dipandang sebagai wacana, sekaligus juga inskripsi, yang merepresentasikan proses dialektika yang berkembang dalam konteks konstruksi realitas budaya etnis Banjar
Meskipun secara fungsional peribahasa Banjar sangat akrab dengan etnis Banjar di Kalsel, namun tidak semua anggota kolektifnya tertarik melakukan kegiatan inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi peribahasa Banjar. Fakta menunjukan pembicaraan formal dan informal menyangkut karakteristik bentuk, makna, fungsi, dan nilai peribahasa Banjar sangat jarang dilakukan oleh para inteletual yang berasal dari kalangan etnis Banjar sendiri.
Saya prihatin dengan nasib buruk peribahasa Banjar yang demikian itu. Disemangati oleh rasa keprihatinan yang mendalam, saya kemudian dengan sengaja menjadikannya sebagai bahan kajian tesis saya di Program Pascasarjana PBSID FKIP Unlam Banjarmasin (2005).
Meskipun telah berhasil menyelesaikan penulisan tesis, namun saya tetap melanjutkan kegiatan pengumpulan dan pengkajian peribahasa Banjar. Tahun 2006, saya berhasil menyelesaikan penulisan Kamus Peribahasa Banjar (KPB). Jumlah entri/lemanya ketika itu cuma 1.358 buah.
Kegiatan pengumpulan dan pengkajian peribahasa Banjar masih terus saya lakukan hingga sekarang ini. Paling akhir saya meluncurkan KPB (2010) dengan jumlah entri/lema sebanyak 9.058 buah. Setiap peribahasa Banjar yang menjadi entri/lema di dalam KPB (2010) saya uraikan satu demi satu dengan merujuk kepada 4 aspek bahasan, yakni bentuk, makna, fungsi, dan nilai. Tebal KPB (2010) adalah 1.539+L halaman setengah folio.
Tajuddin Noor Ganie, M.Pd. Budayawan dan intelektual Banjar pertama yang menulis tesis tentang peribahasa Banjar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar